Dongeng Sebuah Negeri Untuk Generasi yang Tertidur

Adalah mimpi yang muluk untuk mengubah sebuah negeri dengan sepenggal mantra alakadabra ketika negeri ini mempunyai banyak persoalan yang nyata. Sebuah negeri? Kata itu harusnya diprasakan menjadi lebih sederhana. Di negeriku, ketika membicarakan sebuah negeri, orang-orang akan mengambil definisi terdekat yang mereka pahami: Negeri adalah sebuah tatanan sistem berkeraturan yang saling terpaut nan penuh celah untuk dirusak. Pun sama, cinta orang-orang di negeriku untuk negeri kian terkikis. Begitu juga aku. Rasa cinta dan nasionalisme itu menguap perlahan, sebelum—mungkin akan hilang selamanya dan menjadi apatis. Sebelum perasaan itu hilang dengan sempurna, izinkan aku membuat beberapa catatan ini. Catatan ‘nyeleneh’, terkhusus untuk diriku sendiri.

Catatan 1:

Aku terlahir di negeri yang jauh. Di negeriku, kehidupan pemuda di generasiku selalu penuh dengan dikte. Sistem memaksa kami menjadi zombie yang mengikuti satu hal ke hal lainnya tanpa banyak bertanya. Pun sama, pendidikan yang kami terima adalah garis lurus saja. Tahap satu, dua dan tiga secara berkesinambungan. Tetap sama, tanpa harus kami bantah. Orang tua dan guru sudah menetapkan mana baiknya yang harus kami lakukan.

Kami menurut dan kami masih mempunyai masalah: Manusia selalu membandingkan.

Generasiku dituntut untuk bisa menguasai semua pelajaran sekolah, untuk selalu menjadi juara, untuk mengerti semua hal yang kami pelajari dan setumpuk tugas yang harus diselesaikan. Menjadi kompetitif adalah tujuan utama. Di satu sisi, sifat kompetitif itu menjadi pemicu untuk berbuat lebih baik. Di sisi lain, sifat kompetitif itu membunuh semua minat kami pada hal lain.

Apa itu semua negeri? Definisi itu hanya dimengerti oleh sebagian golongan. Adalah mimpi yang muluk untuk mengubah sebuah negeri dengan sepenggal mantra alakadabra ketika negeri ini mempunyai banyak persoalan yang nyata. Sedihnya, dalam generasi itu, orang-orang justru bertanya. “Apa persoalan yang sedang dihadapi oleh negeri ini?” Media lebih banyak menyuguhkan sampah. Dan ketika manusia hanya mengkonsumsi sampah, maka sampah pulalah yang dihasilkannya. Berita dimanipulasi, pers berpihak pada golongan, pemimpin hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Hal apakah lagi yang patut untuk dipercayai?

Ketidakpercayaan itu membuat pemuda di satu generasiku kehilangan identitas diri. Ketika agama dan masyarakat tak berjalan bersama, ketika media dan masyarakat berjalan bersama tanpa kejujuran, generasiku terpenjara pada teknologi yang membuai. Kami bercerita pada dinding dan menjadi burung biru penuh kicauan sebagai pelarian. Egois bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikan generasi di negeriku. Kami hanya tak tahu kami mempunyai masalah. Seserhana itu.

Catatan 2:

Aku terlahir di negeri nun jauh. Setiap daerah di negeriku terpisah dan setiap orang merasa bahwa mereka berbeda. Perbedaan itu indah adalah dongeng kedua yang aku dengar sebelum tidur. Tapi, kadang perbedaan itu membuat aku dan pemuda generasiku menjadi tinggi hati. Kami merasa menjadi sekelompok orang yang lebih baik. Sekolompok lainnya yang kehilangan keyakinan diri akan menjadi minder dan merasa tak layak untuk berjalan berdampingan dengan kelompok lain yang terlihat lebih baik. “Begitulah sebuah perbedaan. Tugas kita hanya melihatnya saja,” dalih seorang pemuda dari generasi di negeriku yang nun jauh itu ketika melihat bahwa perbedaan menciptakan kesenjangan.

Di negeri tempatku terlahir, ada sekelompok generasi yang lebih menghargai uang dibanding kemanusiaan. Bahwa hukum pun ikut membedaan korbannya berdasarkan faktor tersebut. Benda diciptakan untuk dicintai dan manusia diciptakan untuk dimanfaatkan. Kenyataan yang aneh sekali, bukan? Maka tertidurlah. Seperti kata temanku yang lain, “Aku pernah bermimpi tentang sebuah negeri yang mempunyai semboyan walaupun berbeda tetapi kita satu juga. Saat aku terbangun dari mimpi, aku ingin terbangun di negeri itu.”

Catatan 3:

Aku terlahir di negeri nun jauh. Di negeriku itu, Islam dan modernitas adalah dua hal yang berjalan paralel. Islam hanya dikaitkan dengan akhirat dan modernitas dikaitkan dengan kehidupan dunia. Abaikan saja fakta bahwa akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Di negeriku yang nun jauh itu, kejayaan Islam di masa lalu hanya terdengar sebagai dongeng yang diceritakan sebagai pengantar tidur. Bahwa, dulu sekali, entah di masa mana itu, Islam pernah berjaya. Kisah itu kini diceritakan untuk dibanggakan pada generasi berikutnya. Generasi yang terlahir sekadar pendompleng kebesaran sejarah. Lupakan masa lalu? Jangan! Teruslah tertidur agar dongeng itu berkerja sempurna. Begitulah generasi di negeriku, kami lebih memilih tertidur untuk mengulang rekaman sejarah itu dalam mimpi.

Seperti layaknya mendengar dongeng, aku pun menyukai kisah-kisah ilmiah tentang pembangunan, teknologi, juga tentang politik yang selalu diisi oleh orang-orang bersih. Tulisan-tulisan itu menarik karena mampu membuat pembacanya terlihat intelek. Berbeda sekali dengan tulisan yang ditulis oleh kaum dari generasi pendahuluku bahwa setiap satu kalimat selalu diikuti oleh sebuah hadist pembenaran.

Sejujurnya generasiku tidak membenci hadist-hadist itu. Kami hanya tidak mengenalnya. Kami terlahir di satu generasi di sebuah negeri yang terkikis ruhul jihadnya. Satu-satunya yang kami tahu adalah agama adalah doktrin yang mutlak. Sesuatu yang tak dapat dibantah. Maka ketika sebuah teori dan pernyataan diungkapan dengan dahlil agama maka kami yang masih belum sepaham hanya akan mengabaikannya saja. Saat orang lain mengajari kami dengan pemaksaan maka kami memilih pergi, mencari kebenaran lain yang lebih mudah kami terima. Buah dari ketidaksatuan cara ini adalah anekdok bahwa penganut sebuah agama justru membenci agamanya sendiri.

Orang-orang di negeriku juga terlalu cepat marah dan membawa semua hal atas nama agama. Ada banyak kasus yang harusnya sederhana tapi justru menjadi besar oleh sifat manusia. Sebuah postingan yang terlihat menyimpang dari agama akan langsung menjadi bahan cerita, di-share ribuan kali, bahkan lengkap dengan label dosa, haram dan kafirnya seolah-olah benar hal tersebut demikian nista. Agama tidak pernah salah, agama tidak pernah berdosa, pun yang membuat sebuah agama tampak hina adalah penganutnya. A country is its people. A religion is its believer.

Orang-orang di negeriku lupa bersifat bijak. Bahwa sesungguhnya dengan mendiamkan masalah tersebut, dengan tidak menggubris dan mendebatkannya, dia telah menyelamatkan pandangan negatif orang lain tentang agamanya.

Aku pernah mendengar kalimat yang terucap tanpa sengaja bahwa tulisan dengan hadist itu membosankan. Sontak aku berang mendengarnya. Tapi, temanku pernah memberi saran, “Jika generasimu tidak menyukai hadist, tulislah nasihat baik itu dengan cara yang lain. Jangan paksakan mereka mencintai apa yang mereka tidak sukai dengan menjejalkannya langsung pada mereka. Ubahlah sedikit, ubahlah resepnya, suapi mereka dengan cara yang berbeda. Wortel yang digigit mentah dan yang dibuat jus tetaplah wortel. Bentuknya saja yang berbeda.”

Catatan 4…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *