Kapan Terakhir Kali Kamu Mencoba Hal Baru?

Ada masa ketika saya mendapat kesempatan untuk menentukan beberapa judul essai yang harus diselesaikan oleh sekian orang. Saya menyukainya tentu. Hanya menentukan judul, dan biarkan orang lain mengisinya dengan kapasitas dan pengalaman mereka sendiri. Lalu, kalau saya beruntung, mungkin satu-dua tulisan akan menyenangkan untuk dibaca. Tidak hanya sekedar retoric yang kian berulang.

Saat itu, saya memutuskan untuk menulis tiga ide tema. Simpel, hanya karena menyukai temanya. Tapi saat saya menyadari bahwa salah satu judul memonopoli pilihan responden, saya mulai berpikir ulang. Salah satu tema yang sepi peminat adalah, “Kapan terakhir kita mencoba hal baru?” Bagi saya pertanyaan ini sederhana. Hanya enam kata. Singkat. Tapi, ada banyak hal lain yang rupanya abai saya perhatikan.

Respon 1: Saat saya berbicara dengan seorang responden dalam kondisi yang lebih informal,  dia mengatakan bahwa dia tidak memilih tema itu karena dia tidak tahu apa yang harus dituliskan. Tapi, saya senang saat dia menceritakan pada saya apa yang tidak dia tuliskan di essai. Kapan terakhir kita mencoba hal baru? Jawabannya sederhana, “Hari ini.” Apa yang dilakukannya? Hanya makan salak. Yup, kamu tidak salah baca kok. Itu adalah pertama kalinya dia makan salak. Harusnya terhitung sebagai mencoba hal baru. Tapi, tidak, kita menganggap bahwa hal itu terlalu sederhana dan tidak menarik. Maka, kita sengaja melupakan bahwa kita sudah melakukan sesuatu yang berbeda hari ini.

Respon 2: Seorang responden lainnya mengatakan dengan jawaban klasik favorit kita. “Saya tidak tahu.” Itu topik yang sangat sulit, katanya, sebab dia sendiri tidak ingat kapan dia melakukan hal baru.

Respon 3: Sebenarnya saya tidak berbicara dengannya langsung. Tapi responden itu memilih topik yang sepi peminat ini. Essai sederhananya menuliskan pengalamannya saat melalukan hal-hal baru, terjatuh dan mencoba hal lain karena satu kata ajaib itu “penasaran”. Dia ingin tahu bagaimana rasanya melakukan ini dan itu.

Kita semua pasti pernah penasaran dengan sesuatu. Apakah kita melakukan tindakan?

Sungguh, mengerikan sekali bagi saya, saat saya juga tanpa sadar terjebak pada hal yang sama. Terlalu malas, terlalu takut, merasa sok gak punya waktu dan enggan melakukan hal-hal baru karena merasa bahwa hal tersebut terlalu sederhana, bukan level kita lagi, pongah dan merasa kita  jauh lebih hebat dari itu. Boleh saja, terserah, your choice. Tapi, mari berpikir sejenak, apakah ada yang berubah saat kita hanya merasa hebat tapi tidak melakukan apapun?

Respon 4: Tanya dirimu sendiri dan jawab pertanyaan itu.

Kapan terakhir kali kamu melakukan hal baru? Jangan-jangan kamu sendiri juga tidak ingat jawabannya.

Kalau kamu punya waktu lebih, coba hitung berapa kata “hanya” di postingan ini. Karena, mungkin tanpa sadar, postingan ini sudah mendoktrin otak kita bahwa segalanya “hanya” dan tidak spesial. Berani membaca ulang postingan ini dengan menghilangkan kata “hanya”?

Ah, saya juga lupa nanya, menurut kamu kenapa saya pilih featured image yang ini? Sebuah tirai dalam sebuah bus yang sedang dalam menuju entah kemana? Saya melihat banyak hal dari dalam bus itu, alam yang hijau dan lainnya. Tapi, melihat dan merasakan adalah dua hal yang berbeda. Melihat membuat saya merasa sok tahu banyak hal. Merasakannya membuat saya menyadari detail yang tidak terlihat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *