Membully Jomblo Hanya Menunjukkan Level Kamu Dimana

Para jomblo pasti tahu rasanya saat status jomblo dijadikan bahan ledekan dan meme. Itu adalah hiburan yang menyenangkan mengingat jumlah jomblo sebanyak jamur di musim hujan. Membuat lelucon tentang jomblo sangat mudah dan berkat ke-jomblo-akut-an, banyak jomblo yang melabeli dirinya jojoba alias jomblo-jomblo bahagia pun akhirnya terpancing, mudah marah dan tersinggung dengan lelucon semacam itu. Apakah pembully jomblo berhenti? Tidak. Lelucon lain akan terus ada. Tapi, tau kenapa kamu harusnya berhenti membully jomblo?

1. Kamu menunjukkan kamu kena Joke-Block.

Kasus ini semacam kasus writer-block ketika kamu mentok gak dapat ide. Ketika seseorang menjadikan jomblo sebagai bahan lelucon, itu semata-mata karena dia sudah kehilangan kreatifitas. Joke-Block. Jomblo sudah menjadi topik lelucon bertahun-tahun. Akan terus seperti itukah? Be more creative. Masih banyak humor yang lebih bermutu. Menggunakan jomblo sebagai lelucon sudah bukan zamannya lagi. Out of the date. Apalagi kalau kamu ketemu jomblo keren yang wow, prestasinya lebih panjang dari pada bon tagihan hutang kamu. Bawaannya pasti kamu pingin nangis, pingin jadi jomblo juga.

2. Kamu Jomblo!

Contoh lelucon tentang jomblo.
Contoh lelucon tentang jomblo.

Para pembully jomblo terbesar biasanya berasal dari tiga kalangan ini: Satu, kamu tidak atau baru saja memasuki fase jomblo, yang masih ngerasa penderitaan jomblo bukan masalah besar. Dua, kamu yang masih ber-eforia dengan status baru kamu. Lupa kacang pada kulitnya. Lupa gimana rasanya jadi jomblo. Tiga, kamu sudah di level kedua dari tingkat ke-jomblo-akut-an terus kena semacam penyakit “It’s my life. I am having fun with my jomblo status.” Padahal aslinya, mau nangis bombay aja. Ooops. Tapi, kamu pasti pernah ketemu jomblo yang menjadikan ke-jomblo-an sebagai bahan lelucon, kan? Menertawakan diri sendiri adalah bentuk penerimaan kenyataan. Sudah legowo aja katanya. Buat seru-seruan aja kok. Gak ada maksud lain. Seru-seruan? Oke, alasan yang masuk akal. Tapi, please deh, jomblo lain mungkin belum seveteran kamu! Hargai mereka yang hatinya masih serapuh kaca. Berdebu lagi.

3. There is story behind the scene.

Ada banyak alasan orang memilih menjomblo, mulai dari alasan agama semisal pacaran itu dosa, pendidikan karena kamu mau fokus sekolah dan mengejar cita-cita, hingga alasan klasik, belum ketemu yang pas. Yup, jodoh gak dijual di toko online, guys. Kamu mau sepatu mah gampang, klik-klik-klik, baca deskripsi, check out. Gak suka jual, terus beli lagi model lain. Lah, jodoh? Maunya harus sekali seumur hidup, kan? Lagipula, langkah, rezeki, pertemuan dan maut semua sudah diatur sama Sang Pencipta, guys. Kita gak tahu apa yang dialami seseorang dalam menentukan pilihannya, kita gak tau rencana baik apa yang disiapkan oleh Tuhan untuk kita dan banyak cerita behind the scene lainnya. Jadi, stop usil. Stop bully jomblo.

4. Level kamu disitu.

Kalau saya bilang membully jomblo adalah hiburan masyarakat kelas bawah, terdengar so mean banget gak? Saya gak berbicara kemampuan ekonomi seseorang tapi lebih kemampuan manusia berpikir dan berempati. Ada banyak masalah yang lebih menarik untuk dibahas, sosial misalnya. Coba lihat, seberapa banyak anak putus sekolah di lingkungan kamu? Seberapa tinggi minat baca kita? Atau tanyakan pada seseorang yang kamu kenal, kapan terakhir kali dia baca buku? Kalau dia baca buku bermutu aja enggak sanggup, tahu sendiri kan level kemampuan berpikirnya dimana? Ya, jadi mungkin wajar kalau dia hanya bisa bully jomblo. Dianya enggak sanggup memikirkan hal yang lain.

Eits, jangan ngamuk dulu gih. Jomblo yang sering dibully juga gak ngamuk segitunya. Ambil buku terdekat yang ada disekitarmu. Mari baca buku, sambut ide baru. Lihat keadaan orang lain. Belajarlah berempati. Berkaryalah. Jangan buang waktu kamu ngebully jomblo yang eh taunya hidup dia lebih bermanfaat dari kamu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *