Panggung Boneka

“Juli?” Dia langsung bertanya. Sejak tadi dia merasa diawasi. Setiap kali dia melangkahkan kaki seolah ada suara jejak lain yang mengikuti. Bukan cuma sekedar firasat. Tapi, ketika dia berbalik dan menatap sekeliling, tak seorang pun terlihat.

Dia memejamkan mata. “Pejamkan matamu dan semua kesenangan yang belum pernah kau temukan akan terlihat,” kata yang diucapkan gadis itu masih diingatnya jelas. Kenangan itu membuat semua ketakutannya berubah menjadi kesenangan. Bahkan, suara kuku yang menggaruk bebatuan pun akan berdecit indah. Juli, gadis yang menjadi kenangan.

“Juli?” Dia bertanya lagi. Masih tak ada jawaban. “Juli, aku tahu kau mengikutiku.”

Dia merogoh sakunya dan melemparkan sebuah kunci. Terdengar denting dari benda yang terjatuh itu. “Itu kunci yang kau titipkan padaku.” Masih tak ada jawaban. Lalu kesunyian yang janggal muncul. Tapi, dia tak menggubrisnya. Dia berjalan lagi. Sengaja membiarkan sebuah bayangan gelap terlihat mengikuti langkahnya. Seorang penguntit yang suara langkahnya tidak terdengar.

“Juli?” Pembicaraan itu masih hanya berlangsung satu arah.

Setiap kali dia melangkahkan kaki, jalan yang dilaluinya terlihat semakin panjang dan gelap. Kegelapan itu terus bertambah pekat dan sempurna memenuhi malam. Tak membiarkan sepasang mata manapun untuk mengintip isi di dalamnya. Penguntit pasti membawa kegelapan bersamanya.

Dia memejamkan mata. Sekejab kemudian, semua tampak berbeda. Jalanan yang gelap itu berubah. Sebuah tirai terbuka. Sebuah cahaya dari sebuah lentera kecil yang temaram menampilkan bayang-bayang. Sebuah cahaya lain juga terlihat. Sebuah cahaya kecil yang menyelinap masuk dari ujung ruangan itu. Cahaya kecil dari pintu keluar yang tak terkunci.

“Juli?” Dia masih memanggil nama itu. Abai memperhatikan sekeliling bahwa dia sedang berdiri di atas panggung.

Tidak ada jawaban. Tapi, si penguntit itu masih berada di dekatnya dan menatapnya kejam.

Sebuah musik mengalun. Sebuah tirai kecil terbuka. Diatas panggung yang sama dengannya, sebuah sosok berdiri dan memainkan sebuah boneka tali.

Si pemuda tampak awas. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya. Bunyi musik yang mengalun dalam kebisuan menimbulkan gema ketakutan yang menyanyi dalam kegelapan.

Pemain boneka itu menunduk, menyembunyikan wajahnya. Hanya tubuh dan bonekanya saja yang terlihat, membayang. Si pemain boneka menggerakkan bonekanya, satu jarinya terlepas, jatuh. Dia mengerakkan bonekanya lagi, satu jari lainnya terlepas, jatuh. “Bukankah kau yang datang padaku, Tuan?” Akhirnya pemain boneka itu menjawab. Dengan delapan jari yang tersisa, pemain boneka masih menggerakkan bonekanya. Caranya memainkan boneka seolah jiwa itu sudah bersatu dengan bonekanya. Tak ada jarak dalam jiwa yang telah bersatu sempurna.

“Tidak! Tidak! Aku tak pernah datang padamu.” Dia berteriak histeris. Setiap kepingan dari ketakutan menyatu. Dia pun berlari dari jangkauan pemain boneka itu. Berusaha menjangkau pintu keluar.

“Kau akan meninggalkan aku lagi?” Untuk pertama kalinya penguntit itu berbicara. Sosok penguntit itu berdiri tak jauh dari pintu keluar.

“Juli?” Dia menangkap kehadiran sosok penguntit itu. Langkahnya terhenti seketika.

“Juli?” Dia berpaling menuju sosok penguntit itu. “Tidak pernah ada Juli yang semanis dirimu. Aku tak akan meninggalkanmu seperti masa itu,” ucapnya. Dia lalu menarik tangan penguntit itu lembut dan menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jari penguntit itu.

Pemain boneka itu memperhatikan mereka berdua dan menyeringai. “Tuan, kau mengambil keputusan yang salah. Hahaha.” Gema tawa pemain boneka tali itu mengisi ruangan. Pemain boneka itu lalu mengerakkan jari-jarinya, cara yang sama seperti caranya menggerakkan boneka mainannya. Tapi, boneka itu tetap tak begerak. Dua jarinya yang terlepas itu yang justru bergerak! Dua jari itu kini jari itu terbang, tepat mengarah padanya.

Dia mulai ketakutan. “Lepaskan aku!” teriaknya pada penguntit itu. Dia menarik kuat tangannya dari genggaman itu tapi tetap tak terlepas. Seberapa kuat pun dia menarik tangannya itu, usahanya tetap tak berhasil. Ketakutannya memuncak ketika dua jari itu semakin mendekat padanya.

“Kau ingat kunci ini?” Penguntit itu menunjukkan sebuah kunci padanya. “Itu kunci yang aku titipkan padamu. Kunci kamarku yang kuberikan karena kau mengatakan bahwa kau tak akan pernah meninggalkanku.”

“Juli, itu hanya masa lalu.” Dia mulai terisak.

“Juli?” Penguntit itu mencemooh. “Hari pertama di bulan Juli kita bertemu. Seminggu setelah itu aku menyerahkan kunci itu. Masihkah kau mau mendengarkan kisah Juli merah itu? Kisah Juli merah dimana kau mencuri semua milikku. Aku Julimu,” ucap penguntit itu.

Isakan itu terhenti. Si gadis Juli memberikannya sebuah ciuman perpisahan. Mata kejam si gadis Juli berubah menyedihkan dan genggaman tangan mereka terlepas.

Dia menatap si gadis Juli. Tapi matanya langsung membelalak. Kedua jari yang mengarah padanya tadi sudah begitu dekat. “Aku akan buta!” Ketakutannya memuncak.

Dia berlari menjauh dari si gadis Juli. Tapi, tebakannya salah. Kedua jari itu justru mengarah pada dua lubang hidungnya. Jari besar itu menutup lubang hidungnya sempurna. Tak menyisahkan ruang apapun untuk bernapas. Napasnya mulai tersenggal.

“Tuan, aku juga akan menceritakan satu rahasia kecil padamu. Kau seharusnya tak perlu ketakutan karena hal-hal besar, Tuan. Hal-hal kecillah yang membunuhmu,” aku pemain boneka tali itu. Tubuh yang tak bisa bernapas itu itu mulai kehilangan kesadarannya lalu rubuh.

“Kau menang, Penguntit. Dia masih mencintaimu,” ucap pemain boneka tali itu. Penguntit itu hanya tersenyum di depan tubuh yang sudah tak bernapas lagi itu. Kegelapan kembali menyelimuti ruangan itu. Tubuh itu juga perlahan lenyap di dalamnya.

“Dia mencintai kenangan,” jawab si gadis Juli. “Sekarang dia bonekamu,” lanjut si gadis Juli sebelum sosok mereka juga perlahan menghilang dalam kegelapan yang menjalar itu. Kegelapan yang terus bertambah pekat. Kegelapan yang sempurna. Tak membiarkan sepasang mata manapun untuk mengintip isi di dalamnya. Si gadis Juli itu pasti membawa kegelapan bersamanya.

 

 

****

Catatan pribadi: Ini adalah cerpen pertama yang saya tulis untuk memenuhi tantangan menulis cerpen dengan mencantumkan kata-kata wajib. Bisa tebak kata kunci yang wajib digunakan?

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *