Pengalaman Pertama Buat Domain Berbayar

Ketika teman saya bertanya, kenapa saya bisa buat blog ini, katakanlah ini adalah iseng yang berlebihan. Saya bukan tipe orang yang rajin nulis. Pernah punya diary, tapi dua halaman cukup untuk merangkum kisah setahun. Alasannya sederhana, saya lupa saya punya diary. Saya tidak pernah terbiasa menulis rutin. Kapan ingat, kapan sempat, kapan mood, kapan ada ide dan sejuta alasan kapan lainnya selalu menjadi alasan saya. Belum lagi godaan yang kuat, ketika saya nulis, saya justru buka google lalu ngecek update anime. Lalu idenya? Simpel. Saya lupa.

Saya enggak akan pernah bilang kalau saya rajin nulis jadi entah apa yang merasuki saya sampai nekat buat domain berbayar. Lah, saya juga pernah membuat blog gratis berkali-kali tapi dua-tiga post, saya berhenti nulis. Seminggu kemudian, saya lupa bahwa saya sudah buat blog baru. Kadang, kasus ektremnya, saya lupa email mana yang saya gunakan, bahkan saya lupa apa nama blog saya. Yup, that’s awesomely me. Jadi iseng berlebihan untuk buat blog ini bakal memorable banget untuk seseorang seperti saya.

Nah, kalau kamu juga suka iseng berlebihan, ada curhatan blogger amatir ni, deng-deng-deng, curhatan saya:

Saya pikir domain anakbelawan.com itu sama dengan hostingnya. Ternyata beda saudara…  Tanya apa bedanya? Domain itu ya khusus anakbelawan.com. Hanya sekedar nama. Kalau kamu hanya beli domainnya, ya selamat datang di halaman seperti ini. Awalnya saya pikir keduanya sama. Jadi pas ketemu penampakan seperti gambar, saya berpikir positif (a.k.a naive, polos, innocent), mungkin domain saya masih dalam pembuatan si abang/kakak prjofesional. Setelah berjam-jam, klik anakbelawan.com tapi tampilan gitu terus, saya jadi baca ulang dan langsung nyari tu nama yang disebut nameserver, cpanel dan lainnya itu. Cari dimana? Enggak tahu! Tepat sekali, saya gak tau sama sekali itu nama sejenis makhluk apa.

Solusi akhir, saya buka website tempat saya beli domain dan langsung hubungi live chat. Kabar baik, saya dapat pencerahaan sedikit. Jadi, akhirnya saya beli hosting (semacam disk space gitu) yang paling murah, paling sedikit kapasitasnya. Ngapain coba beli yang mahal, lah saya juga gak yakin saya bakal konsisten nulis, kan?

Jadi demikianlah beda domain dan hosting. Eits, jangan asal percaya. Mungkin juga salah saya menafsirkan perbedaannya. Toh, semua nama itu masih membingungkan buat saya. Nah, kalau ada yang bersedia ngajarin saya, I welcome you with love 😀

Kisah selesai? Jauhhh!!

Setelah domain dan hostingnya bersatu, (selamat buat mereka), penampakan domain saya masih sama!

Lagi, saya hubungi live chat tempat saya beli domain. Tanya ini-itu, google ini-itu, pusing kepala, dan kasus alay lainnya, akhirnya saya tahu kalau domain juga butuh wordpress. Nambah ilmu satu.

Saya langsung buat wordpress tentunya. Saya mendaftar pakai email utama saya, dan ternyata, saya sudah punya wordpress! Dan saya lupa bahwa saya punya. Nama wordpressnya juga saya udah lupa. Setelah sekian kali klik sana-sini, nanya di live chat (saya sempat takut pihak CS-nya marahin saya karena nanya hal yang sama mulu, dijelasin tapi tetap gak ngerti), trial dan error dan error lainnya, jadi domain ini bekerja. Gambar di sisi kanan adalah penampakan dari postingan awal saya. Sebuah cerita anak berjudul Tangkap Hantunya, Rayga!

Yay! Semoga saya rajin nulis.

Perjuangan selesai? Enggak. Masih banyak lagi hal yang tidak saya mengerti. Mohon bantuannya.

 

 

 

2 Replies to “Pengalaman Pertama Buat Domain Berbayar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *