Si Gurita Merah dan Tintanya

Tame selalu tak percaya diri dengan warna tubuhnya. Di semua lautan yang pernah dia jelajahi, hanya dirinya sendirilah yang berwarna paling berbeda. Tame adalah gurita berwarna merah cerah. Warnanya yang berbeda itu sering membuatnya diledek oleh teman-teman. Tak ada gurita yang mau bermain dengannya. Kata mereka, gurita yang berwarna merah mempunyai semacam penyakit pengubah warna yang dapat menular.

Tame yang mendengar berita itu pun pernah memerikasan dirinya pada Oka. Seekor gurita yang menjadi dokter di lautan. Dan Oka juga sudah menjelaskan bahwa Tame tidak memiliki penyakit apapun. Dia hanya memiliki pigmen warna merah yang lebih banyak dari gurita lainnnya. Meskipun begitu, Tame tetap diledek oleh gurita lainnya.

“Warnanya aneh… Warnanya aneh…” ledek Rijau, seekor gurita yang memliliki warna yang sama dengan gurita lainnya.

Warna merah Tame juga mendatangkan masalah lainnya. Dengan warnanya yang mencolok, Tame selalu menjadi pusat perhatian hewan laut lain. Terutama ikan pemangsa seperti belut laut Moray. Diantara semua gurita, Tame lah yang paling sering diincar oleh Moray. Warnanya yang merah cerah itu membuat Tame sering ketahuan walaupun dia telah bersembunyi dari Moray.

“Hahahaha.. Jangan lari makan siangku,” tawa Moray ketika melihat Tame.

Setiap kali Moray menemukan Tame, Tame juga langsung melarikan diri. Dia menyemprotkan tinta hitamnya yang pekat agar Moray tidak dapat menemukannya. Tame langsung berenang menjauh dari Moray, bersembunyi di celah bebatuan dan menunggu Moray pergi dengan sabar.

Disaat Tame sedih, Kaka lah yang menjadi tempat Tame bercerita. “Kenapa aku berwarna merah mencolok, Kaka? Kenapa Moray suka sekali mengejarku?” tanya Tame pada Kaka. “Andai mereka tahu kalau aku juga tak mau menjadi gurita merah,” rungut Tame.

Kaka adalah teman Tame satu-satunya. Kaka sering menemani Tame bermain atau sekedar mendengar Tame bercerita. Saat Tame mengeluhkan sesuatu, Kaka jugalah yang sering menasehatinya, “Tame, kamu berwarna merah karena kamu istimewa.”

“Tapi apa yang istimewa dariku?” tanya Tame.

“Kamu perenang yang hebat. Kamu dapat menyemprotkan lebih banyak tinta dari pada gurita lainnya, Tame,” jawab Kaka.

Tame memang perenang yang hebat. Karena Moray sering sekali mengejarnya, Tame sering berlatih untuk berenang lebih cepat dan lebih cepat. Dan tinta adalah alat perhanannya. Tinta yang disemprotkan Tame ke arah Moray sering membuat Moray tidak dapat melihat kemana arahnya Tame berenang. Hingga akhirnya, Tame bisa menyelamatkan dirinya lagi.

“Kamu benar,” jawab Tame menyadari bahwa dia juga mempunyai kelebihan.

Saat Tame dan Kaka sedang bercerita itu, Moray kembali datang dan menyerang para gurita. Melihat kedatangan Moray, Tame dan Kaka pun bersembunyi. Tapi Rijau yang sedang asik bermain tidak menyadari kedatangan Moray. Dan Rijau pun langsung menjadi target sasaran Moray. Moray mengejar Rijau!

Rijau berenang sekuat tenaga. Tapi Moray tetap dapat mengejarnya. Melihat Rijau dalam kesulitan, Tame pun hendak dari persembunyiaannya. Tapi Kaka ada di dekatnya. Dan Kaka mungkin akan melarangnya, pikir Tame.

“Lakukanlah. Kamu adalah gurita yang istemewa,” ucap Kaka tersenyum.

Melihat Kaka menyetujui jika dia menolong Rijau, Tame pun keluar dari persembunyian mereka dan berenang mendekati Moray. “Hei Moray. Disini. Aku makan siangmu! Ayo sini,” ucap Tame pada Moray. Sengaja membuat Moray mengejarnya. Meskipun begitu, usahanya tidak berhasil. Moray hanya melihat Tame sekilas dan kembali mengejar Rijau.

“Hei Moray. Kamu takut padaku, iya kan? Kamu takut kalah dariku, kan? Ayo kejar aku. Weekkk,” ejek Tame lagi.

Moray yang mendengar Tame mengejeknya pun marah dan mengejar Tame. Ketika Moray mengejar Tame itulah Rijau mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Tapi Rijau justru kebingungan mencari tempat untuk sembunyi sampai Kaka menegurnya.

“Ayo, kita sembunyi disini,” ajak Kaka. Dia juga sengaja keluar dari tempat persembunyiannya untuk menolong Rijau yang kebingungan.
Rijau mengikuti Kaka dan mereka berdua bersembunyi. Mereka menyaksikan bagaimana Tame mengalahkan Moray. Tame menyemprotkan banyak tinta dam membuat air laut di sekeliling tubuh Moray menjadi hitam. Tinta Tame juga masuk ke mata Moray dan membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas. Tame pun berhasil kabur.

Sejak saat itu, mata Moray tidak dapat melihat dengan jelas selama berhari-hari. Bahkan setelah sembuh, Moray juga tidak pernah menggangu Tame dan gurita lainnya lagi. Rijau yang diselamatkan Tame pun berterima kasih pada Tame. Beberapa gurita lainnya yang melihat aksi heroik Tame menyebutnya sebagai pahlawan. Dia juga akhirnya mendapat banyak teman.

“Mama, aku ingin jadi gurita merah, Ma,” rengek gurita kecil pada ibunya. Gurita kecil itu juga ingin menjadi pahlawan berwarna merah.

“Jadilah dirimu sendiri, Dik,” Tame mendekati gurita kecil itu dan berbicara padanya. Tame merasa senang mendengar bahwa ada gurita lain yang ingin menjadi sepertinya tapi dia sudah mengerti satu hal yang lebih penting. “Tanpa menjadi gurita merah, kamu juga sudah istimewa,” ucapnya. Tame sadar, tak perlu malu untuk menjadi berbeda. Semua warna adalah istimewa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *